Showing posts with label sejarah. Show all posts
Showing posts with label sejarah. Show all posts

Saturday, September 9, 2017


Mungkin tak banyak yang pernah mendengar nama Candi Sojiwan, apalagi kalau ditanya letaknya di mana. Ya, Candi Sojiwan memang tak sepopuler Candi Prambanan, apalagi Candi Borobudur. Sebenarnya candi ini letaknya tak jauh dari Candi Prambanan, kalau jalan kaki mungkin hanya sekitar setengah jam, namun memang candi ini baru selesai dipugar pada tahun 2011, masih sangat baru dibanding candi-candi lainnya. Yang paling menarik adalah bentuk candi ini mirip Candi Prambanan, tinggi dengan bentukan seperti piramid diatasnya, namun bagian atasnya berupa stupa-stupa mirip yang ada di Candi Borobudur. Bisa dibilang candi ini seperti “perkawinan” antara Candi Prambanan dan Candi Borobudur.

 Candi ini terletak dalam kompleks yang cukup luas dengan taman yang asri dan terpelihara rapi. Ternyata memang kompleks ini baru diresmikan setelah dipugar ulang pada bulan Desember 2011 oleh Mendikbud Mohammad Nuh. Awalnya candi ini hanya berupa bangunan setengah jadi  yang terlihat seperti tumpukan batu saja. Mulai tahun 1996, candi ini direkonstruksi, namun malah runtuh gara-gara gempa bumi yang mengguncang Yogyakarta dan sekitaranya pada bulan Mei 2006. Setelah gempa, candi ini dibongkar ulang untuk kembali direkonstruksi hingga berbentuk seperti sekarang. Kompleks candi ini terletak di Desa Kebondalem Kidul, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten, Propinsi Jawa Tengah. Untuk memasuki candi ini, Anda cukup mengisi buku tamu dan membayar seikhlasnya. Saran saya, bayarlah paling tidak 5000 per orang seperti tarif masuk candi-candi lainnya.

 Candi Sojiwan adalah monumen dari jaman Dinasti Mataram Kuno abad VIII – X yang dibangun oleh Raja Balitung sebagai bentuk penghormatan untuk neneknya Nini Haji Rakryan Sanjiwana yang beragama Budha. Relief di kaki Candi Sojiwan memuat ajaran moral agama Budha dalam bentuk cerita binatang atau fabel. Di antara relief ini ada relief yang menggambarkan seekor kera yang menyiasati buaya sehingga bisa menyeberang sungai, mungkin mirip dengan cerita kancil yang kita kenal. Ada juga relief yang menggambarkan perlombaan antara garuda dan kura-kura.

Berjarak sekitar 1,5 km dari kompleks Candi Prambanan kita akan menemukan candi lain yang tidak kalah indah. Namanya adalah Candi Plaosan. Candi ini berada di dukuh Plaosan, Desa Bugisan, Kecamatan Prambanan. Terdapat dua buah candi utama yang bentuknya identik sehingga candi ini juga sering disebut sebagai candi kembar. Menurut sejarah, candi ini dibangun oleh sepasang kekasih bernama Rakai Pikatan dan Pramudya Wardhani. Keduanya memiliki latar belakang yang berbeda. Rakai Pikatan merupakan salah satu raja dari silsilah Mataram Kuno yang beragam Hindu sedangkan kekasihnya, Pramudya wardhani merupakan seorang gadis dari dinasti Syailendra yang beragama Buddha.
Jadi, Candi Plaosan ini sebenarnya merupakan perpaduan antara budaya Hindu dan Buddha.


SEJARAH 
 
 Candi Plaosan sendiri terbagi menjadi dua bagian yakni Candi Plaosan Lor dan Candi Plaosan Kidul. Jarak keduanya hanya beberapa puluh meter saja. Bangunan utama di kompleks candi ini berada di Candi Plosan Lor. Dua bangunan candi utama didampingi oleh candi perwara yang berjejer teratur di sisi sebelah timur. Sedangkan Candi Plaosan Kidul hanya berupa reruntuhan candi.

 Candi Plaosan terletak di Desa Bugisan, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten. Candi Plaosan terbagi menjadi dua komplek yaitu Plaosan Lor (lor berarti utara) dan Plaosan Kidul (kidul berarti selatan). Relief  yang ada di Candi Plaosan sangat halus dan rinci layaknya relief yang ada di Candi Borobudur, Candi Sewu serta Candi Sari.

Candi Plaosan yang beraliran Buddha ini menurut para ahli mulai dibangun pada masa Rakai Pikatan dari Kerajaan Mataram Hindu pada awal abad ke 9 Masehi. Hal ini di dukung oleh catatan De Casparis yang berpegang pada Prasasti Cri Kahulunan (842 M). Prasasti tersebut menceritakan bahwa Candi Plaosan Lor dibangun oleh Ratu Sri Kahulunan dengan suaminya. De Casparis berpendapat, Sri Kahulunan  merupakan gelar Pramordhawardani, putri dari Raja Samaratungga dari Wangsa Syailendra. Sang putri yang beragama Buddha menikahi Rakai Pikatan yang memeluk agama Hindu.

Pendapat lain mengenai pembangunan Candi Plaosan adalah pembangunan candi yang dimulai sebelum masa pemerintahan Rakai Pikatan. Anggraeini berpendapat, Sri Kahulunan merupakan ibu Rakai Garung yang memerintah Mataram sebelum Rakai Pikatan. Ia juga berpendapat bahwa pemerintahan Rakai Pikatan yang terlalu singkat tidak memungkinkan untuk membangun candi sebesar Candi Plaosan. Rakai Pikatan mendirikan candi perwara setelah masa pembangunan candi utamanya.

Di dekat candi perwara Candi Plaosan Kidul pada bulan Oktober 2003, ditemukan prasasti yang diperkirakan berasal dari abad ke 9 M. Prasasti tersebut mempunyai ukuran 18,5 x 2,2 cm yang terbuat dari lempengan emas. Prasasti ini ditulis dalam bahasa Sansekerta  menggunakan huruf Jawa Kuno. Prasasti ini belum diketahui isinya, namun menurut Tjahjono Prasodjo, epigraf yang ditugasi untuk membaca prasasti ini, ia berpendapat dari prasasti ini menguatkan dugaan bahwa pembangunan Candi Plaosan dibangun pada masa pemerintahan Rakai Pikatan.


First and foremost. Candi pertama yang bisa kamu kunjungi di Klaten tentu adalah Candi Prambanan. Sebagian besar orang mengira bahwa lokasi candi ini ada di Jogja. Sebenarnya tidak salah, hanya kurang tepat.
Lokasi detail Candi Prambanan berada wilayah perbatasan antara Kabupaten Sleman, DIY serta Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Kebetulan, di kedua kabupaten tersebut terdapat kecamatan dengan nama yang sama yakni Prambanan. Kompleks candi Prambanan sendiri sangat luas. Selain bangunan candi utama yang terlihat tinggi menjulang, masih ada beberapa candi lain yang akan kita temukan di kompleks Candi Prambanan. Adapaun candi-candi di kompleks Candi Prambanan yang masuk wilayah Klaten antara lain adalah Candi Sewu dan Candi Bubrah.

 Tak bisa dipungkiri, Candi Prambanan merupakan salah satu objek wisata tersohor di tanah air. Bahkan, sebagai peninggalan Candi Hindu terbesar di Indonesia, Candi Prambanan termasuk dalam daftar situs warisan dunia yang ditetapkan oleh UNESCO.
Keunikan lainnya, secara geografis letak Candi Prambanan berada di perbatasan Provinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta, tepatnya di Kabupaten Klaten dan Sleman.

Sejarah 
 Candi Prambanan merupakan candi tercantik di dunia, peninggalan Hindu terbesar di Indonesia yang terletak di kawasan Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Kurang lebih berjarak 17-20 kilometer di sebelah timur Yogyakarta. Candi induk pada kompleks candi Prambanan mengarah ke timur, dengan tinggi candi mencapai 47 meter. Candi Prambanan sering juga disebut dengan nama candi Roro Jonggrang.

Berdasarkan Prasasti Siwagrha, sejarah candi Prambanan dibangun pada sekitar tahun 850 Masehi oleh raja-raja dari Dinasti Sanjaya tepatnya oleh Rakai Pikatan yang kemudian diperluas oleh Balitung Maha Sambu pada masa kerajaan Medang Mataram. Pembangunannya ditujukan untuk memberi pernghormatan pada Tri-Murti yakni tiga dewa utama dalam agama Hindu. Agama Hindu mengenal Tri-Murti, yang terdiri dari Dewa Brahmana sebagai Dewa Pencipta, Siwa sebagai Dewa Pemusnah dan Wishnu sebagai Dewa Pemelihara.

Dalam Prasasti Siwagrha terdapat uraian mengenai peristiwa sejarah peperangan antara Balaputeradewa dari Dinasti Sailendra melawan Rakai Pikatan dari Dinasti Sanjaya. Balaputeradewa yang kalah melarikan diri ke Sumatera. Konsolidasi Dinasti Sanjaya inilah yang menjadi permulaan dari masa pemerintahan baru yang diresmikan dengan pembangunan gugusan candi Prambanan.
Terjadinya beberapa kali bencana alam seperti gempa bumi dan meletusnya gunung Merapi serta adanya perpindahan pusat pemerintahan Dinasti Sanjaya ke Jawa Timur telah menghancurkan kompleks candi Prambanan. Candi Prambanan dikenal kembali saat seorang Belanda bernama C.A.Lons mengunjungi pulau Jawa pada tahun 1733 dan melaporkan tentang adanya reruntuhan candi yang ditumbuhi semak belukar.

Thursday, September 7, 2017

Karangnongko ~ Candi Merak ,dimanakah itu ? Adanya pertanyaan tersebut dinilai sangat wajar,mengingat  keberadaan candi yang satu ini belum familiar dan sepopuler candi-candi lain di wilayah kabupaten Klaten seperti candi Plaosan,candi Sewu dan candi Jongrang.
 andi Merak tepatnya berada di padukuhan Candi,desa Karangnongko,kabupten Klaten,provinsi Jawa Tengah. Menurut Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jawa Tengah  luas kompleks candi Merak sekitar 2.000 meter persegi.Candi Merak terdiri dari satu candi induk yang menghadap ke timur dan tiga candi perwara yang semua menghadap ke barat ke arah candi induk. Candi induk berbentuk bujur sangkar dengan ukuran 8,38 x 8,38 m,tinggi 12 meter. Penampil candi berukuran panjang 155 cm dan lebar 160 cm. Pipi tangga berukuran panjang 230 cm dan lebar 252 cm.Di dalam Candi Merak terdapat Lingga Yoni yang berada di dalam bilik candi utama. Selain Lingga Yoni terdapat pula arca Durga yang menempati relung utara dan Ganesha yang berada di relung barat. Selain itu terdapat arca-arca lain di sekitar halaman candi Merak seperti Nandi dan dewa-dewa lain dalam agama Hindu ,sesuai sifatnya yakni candi Hindu.
Menurut salah seorang petugas penunggu , candi ini dibuat pada zaman Mataram Kuna.Pada masa Wangsa Syailendra yang menganut agama Hindu Syiwa.Pertama kali ditemukan sekitar tahun 1925. Saat itu candi berada pada sebidang lahan yang ditumbuhi sebatang pohon Joho raksasa. Rupanya rimbunnya  pohon Joho menyebabkan banyak burung Merak bertengger dan tidur di atas pohon setiap hari. Saking tuanya umur pohon Joho , suatu ketika pohon tersebut roboh.Dibawah perakaran pohon besar itu ternyata tersimpan reruntuhan sebuah candi yang ditemukan berupa arca dan bebatuan.Candi yang ditemukan saat itu belum memiliki nama,mengingat pohon Joho yang tumbuh kala itu dijadikan “rumah” burung Merak maka sebagai tetenger candi tersebut  dinamakan “Candi Merak”

                                         
Kondisi candi Merak saat ini telah terlihat indah pasca pemugaran .Pemugaran candi dilaksanakan oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jawa Tengah dengan dana APBD Provinsi Jawa Tengah. Kronologi pemugaran dimulai dari bagian kaki selesai dipugar pada tahun 2007 ,sedangkan  bagian tubuh candi selesai dipugar pada tahun  2010. Sementara bagian atap candi rampung dipugar pada tahun 2011.
Keelokan arsitektur  bangunan candi Merak sejatinya tidak kalah manakala dibadingkan dengan candi-candi yang sepantaran pembuatannya seperti candi Sewu, candi Prambanan, dan candi Plaosan. Bahkan, konon candi ini seusia dengan candi Bima yang ada di Kompleks candi Dieng. Prakiraan ini atas dasar adanya kudhu dan kala makara di candi Merak yang identik  dengan yang ada di candi Bima di wilayah dataran tinggi kabupaten Wonosobo tersebut.
Barangkali ,diperlukan promosi dan publikasi secara terencana,terpadu serta berkelanjutan oleh para pihak terkait guna memperkenalkan benda cagar budaya berupa candi yang ada di Karangnongko ini .Banyak metode untuk itu salah satunya dilaksanakannya event pergelaran budaya secara berkala di komplek candi Merak.Akses menuju candi cukup bagus didukung infrastruktur jalan aspal serta berada dekat pusat pemerintahan kecamatan Karangnongko.

Menurut Arie Item DM warga setempat yang menulis dalam akun jejaring sosial bahwa sepertinya keberadaan candi Merak belum banyak dikenal wisatawan,dan sebenarnya wilayah kecamatan Karangnongko memiliki dua candi disamping Merak yang satu lagi namanya candi Bandung,terletak kurang lebih 500 meter di selatan SMPN 1 Karangnongko, imbuhnya.
Di eksposenya candi Merak nan indah sebagai salah satu destinasi pariwisata cagar budaya di kabupaten Klaten diharapkan akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi di sekitarnya,yang bermuara pada peningkatan derajat kesejahteraan masyarakat.

Label

Arsip Blog Saya

Pages

Pengikut

Popular Posts